Monday, August 24, 2009

MARAH

MARAH

“Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” – Yakobus 1:20

Kemarin saya diundang makan larut malam oleh seorang kawan lama yang kini telah supersukses – jika ukurannya materi. Karena kantornya di pinggir selatan kota, saya di pusat kota, sementara lokasi restorannya di ujung utara, maka dia menjemput saya. Saat keluar pelataran gedung perkantoran saya, rupanya petugas parkir agak lamban sehingga palang pintu tak juga mengangkat sementara kawan saya sudah terlanjur menggerakkan mobilnya. Meski palang itu masih sekitar sepuluh centimeter dari kemilau bodi BMW X-5 – berkat kesigapan kaki kanan kawan saya untuk menginjak pedal rem – tak ayal gunung kemarahan kawan saya terlanjur meletus. Dibukanya jendela pintu mobilnya, dan sejuta sumpah serapah khas Suroboyo-an menguar ke segala penjuru udara. Dan kebetulan petugas parkir itu mukanya lugu – dan saya kira memang karakternya lugu – sehingga parasnya menampakkan rasa tak bersalah. Memandang wajah yang menurut saya teduh itu, kawan saya makin terbakar amarahnya, hingga ia hendak turun dari mobil.

Saya menyentuh lengannya dan berkata, “Kita sudah ditunggu kawan-kawan.” Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali menyetir dengan ‘gaya’ yang membuat saya terpaksa mencengkeramkan kedua tangan saya – diam-diam – di pinggiran jok, walau safety belt sudah terpasang kencang. Sepanjang perjalanan yang kira-kira setengah jam itu tak henti-hentinya ia mengumpat dan mengatai-ngatai petugas parkir itu, sekretarisnya, karyawannya, bahkan istrinya. Segala persoalan yang tak pernah dan tak perlu saya ketahui, ia ungkit-ungkit. Saya bersyukur, hubungan kami selama ini baik-baik saja, sehingga saya tak perlu batal makan lobster bakar.

***

Kita punya puluhan jenis perasaan. Tetapi hanya satu yang kecepatan menyalanya bahkan lebih cepat daripada bom, apalagi kalau dibandingkan dengan dinamit bersumbu panjang. Ya, kemarahan sangat mudah terbakar.

Coba saja cinta; bahkan cinta pada pandangan pertama. Sesingkat-singkatnya, perlu waktu beberapa menit; dari memandangi wajahnya sampai ketika hati Anda mulai dirambati rasa senang dan akhirnya berubah menjadi suka cita yang tak tergambarkan. Lagi pula, sepanjang kehidupan Anda, tentu baru satu-dua kali saja merasakannya.

Kebahagiaan? Oh, lebih lama lagi merasakannya. Mungkin perlu waktu berjam-jam, bahkan berbulan-bulan untuk bisa merasakannya.

Bagaimana dengan kesedihan? Juga perlu waktu untuk tumbuh di dalam hati kita. Bahkan, jika kita mendengar berita kematian orang yang paling kita cintai sekali pun. Pertama-tama, malah bukan rasa sedih, tetapi kaget, tak percaya, bahkan penyangkalan, sebelum akhirnya kesedihan itu mengeloni diri Anda.

Tetapi amarah memang lain. Ia sungguh-sungguh jenis ‘binatang’ lain. Anak Anda secara naluriah memegang pajangan berwarna merah menyala di sebuah toko, dan Anda langsung membentaknya. Lidah Anda merasakan tahu goreng yang terlalu asin dan telinga pembantu pun langsung berdengung mendengar kemarahan Anda. Suami atau istri mengucapkan sesuatu yang menurut Anda salah, bahkan jika hanya mengomentari sesuatu di televisi, maka gunung Semeru yang ada di dalam diri Anda mendadak meletus tanpa memberi amaran sama sekali.

Amarah punya kekhasan lain lagi: begitu meledak, sangat sulit menyumbatnya. Ia benar-benar bagai kawah yang lebar. Satu kata umpatan, seperti “J....k,” dengan superkilat diikuti oleh ribuan serapah, dan kata-kata bertekanan tinggi lainnya. Bahkan fisik Anda pun dengan supercepat diubahnya: detak jantung permenit bahkan mengalahkan seorang sprinter, nafas terengah-engah, mata memerah, bahkan badan Anda gemetar. Saat kemarahan mereda, Anda bahkan merasa sangat letih. Anda terduduk lesu, memandangi sekitar, melihat dengan mata sehat segala dampak dan efek samping kemarahan Anda – yang bisa membuat Anda menyesal, tetapi juga sebaliknya, bisa membuat Anda semakin dendam kepada pihak-pihak yang Anda anggap sebagai pemicu kemarahan Anda. Dan dendam ini bahkan bisa berlangsung puluhan tahun!

***

Sebagai konsultan, saya kerap menyaksikan ‘atasan’ – dari level tertinggi sampai terbawah – menembakkan senapan otomatis kemarahannya. Ternyata, kemarahan mereka itu sangat mempengaruhi kinerja perusahaan/organisasinya. Bahkan, dampaknya bisa diukur. Intinya, kemarahan, menimbulkan kerugian jutaan, bahkan miliaran Rupiah.

Sebagai konselor dan psikoanalis, sudah ratusan kali saya melihat hubungan retak, bahkan pecah berantakan akibat rasa marah yang tak terkendali. Hubungan istri dan suaminya, orangtua dengan anaknya, antarsaudara, juga dengan tetangga dan masyarakat. Ya, masyarakat kita memang bersumbu pendek – sejarah kita sangat penuh dengan kekerasan.

***

Tuhan tidak pernah melarang kita marah. Karena jika itu dilakukannya, sama saja dengan Ia melarang kita bernafas. Sama saja dengan Ia mengingkari karya ciptaNya sendiri.

Dia hanya meminta kita agar lamban dalam marah. Agar sumbu kita perpanjang. Ia meminta kita untuk mengendalikan amarah. Dan Dia sangat senang bila kita sanggup mengendalikan berkat perasaan yang Ia hadiahkan spesial buat kita itu.

Dia tahu kalau kita manusia biasa yang Ia lengkapi dengan rasa marah. Tetapi kalau kita menggunakan berkat-berkat kita yang lain, maka kemarahan itu bisa dikendalikan. Pergunakan telinga dan nurani kita: dengarkan dulu apa yang dikatakan orang sampai selesai, sebelum kita mengemukakan pendapat; dengarkan penjelasan anak sampai tuntas, sebelum menjatuhkan cap negatif ke dalam pikirannya; buka lebar-lebar hati kita seperti kita dulu membuka hati saat jatuh cinta kepada pasangan kita, sebelum menyerocoskan kata-kata yang lebih tajam dari pisau yang akan melukai dan meninggalkan borok di hatinya. DB

Thursday, August 20, 2009

SAAT TEDUH

“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” - Mazmur 1:3

Renungan harian? Meditasi? Oh, tentu, itu baik – tetapi sepertinya, begitu kita bangun pagi, sudah menunggu setumpuk pekerjaan yang harus dituntaskan. Semua tampak menggunung.
Namun, saat teduh bukanlah sekadar satu dari tugas yang harus dikerjakan. Bukan satu dari sekian daftar tugas Anda yang bisa dicoret agar Anda bisa beristirahat sejenak – mungkin.

Sebaliknya, saat teduh akan memberikan banyak berkat yang bisa Anda manfaatkan untuk sepanjang hari Anda. Bagaikan sumur sumber daya. Berkat itu adalah: fokus, energi, dan arah.

Jika memulai hari dengan bersaat teduh, memang 11 atau 17 pekerjaan yang menanti Anda sepanjang hari tidak akan menguap ke udara, tetapi tidak terasa berat lagi karena Anda tahu apa tujuan Anda, dan Anda tiba-tiba saja memiliki energi mental yang takkan pernah habis sepanjang hari itu. Dengan kata lain, saat teduh mengubah cara Anda mendekati kehidupan Anda. Renungan pagi akan memperbarui dan mengubah diri Anda: menyiapkan Anda untuk menghadapi dunia sekarang, serta sekaligus yang akan datang!

Saat teduh akan menenangkan pikiran Anda, memperbarui jiwa kita, dan memperdalam kehidupan spiritual Anda. Itu betul. Tapi bukan berarti Tuhan akan mencerabut atau memisahkan kehidupan spiritual kita dari kejadian-kejadian nyata yang kita alami sehari-hari. Tidak. Sebaliknya, kehidupan spiritual itu juga akan Anda temukan di dalam pekerjaan, keluarga, dan segenap perasaan Anda. Ia menciptakan pikiran dan tubuh Anda. Ia pula yang menciptakan saat teduh.

Baru belakangan ini para peneliti menemukan bahwa saat teduh juga akan melindungi dan menyembuhkan tubuh kita. Jadi, bukan hanya melindungi dan memulihkan jiwa kita, seperti telah kita alami selama ini.

Sekelompok peneliti dari Universitas Harvard, MIT, serta lembaga-lembaga penelitian lainnya menegaskan bahwa saat teduh memang meningkat setiap struktur otak kita. Orang yang melakukan renungan secara teratur terbukti area-area tertentu di otaknya mengalami penebalan. Ringkasnya, otak mereka bertambah! Penelitian ini juga menemukan bahwa bersaat teduh secara teratur akan memperlambat proses penuaan dan penipisan otak. Itu berarti saat teduh membantu otak kita berkembang, sambil sekaligus membantu melindungi otak kita dari segala efek negatif stres dan penuaan.

Saat teduh adalah berkat dan bukti kasih karunia dari Tuhan untuk memperkaya kehidupan kita. Dia ingin menarik Anda berdekatan selalu denganNya, lalu Ia akan mengisi jiwa Anda dengan suka cita dan pembaruan.

Pemazmur mengatakan kepada kita bahwa orang yang bersaat teduh “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)

Kalau kita menancapkan akar-akar kita ke dalam gizi Tuhan, air yang memulihkan, maka kita akan bersemi dan tumbuh dengan subur. Dan kini ilmu pengetahuan telah menandaskan betapa penting gizi seperti itu pada tiap struktur pikiran dan tubuh kita, serta jiwa dan ruh kita.

Maka, ambillah waktu Anda untuk memperbaiki jiwa dan tubuh kita dengan mudah dan gratis: mempraktikkan saat teduh setiap hari. Bangun otak Anda, perbarui tubuh Anda, dan nikmati hidup dengan jiwa penuh suka cita. DB

Tuesday, October 16, 2007

JESUS IS GOD (part 2)

Jesus is God – He is Worshipped

Jesus Accepted Worship Prior To His Ascension
Matthew 28:16-17: “Then the eleven disciples went to Galilee, to the mountain where Jesus had told them to go. When they saw him, they worshiped him; but some doubted.”
Note that Jesus was worshiped at His birth, throughout His ministry, after His resurrection, and again here – right before His physical ascension into heaven. His divine nature, as a member of the Godhead (along with the Father and the Holy Spirit), was never questioned by Him or by those who really knew who He was and followed Him.

Paul’s Understanding As An Apostle And Leader Of The Church
Colossians 1:15-16; 2:9: “He is the image of the invisible God, the firstborn over all creation. For by him all things were created: things in heaven and on earth, visible and invisible, whether thrones or powers or rulers or authorities; all things were created by him and for him. . . . For in Christ all the fullness of the Deity lives in bodily form. . .”
And in Titus 2:13-14 Paul refers to him as “our great God and Savior, Jesus Christ, who gave himself for us to redeem us. . .”
Paul’s letters were some of the earliest Christian writings, with most of them actually pre-dating the four Gospels – yet they make some of the strongest statements concerning the first church’s clear understanding of Jesus as the Creator; God in human form.
Jesus will be worshiped by every creature in heaven Revelation 5:13-14: “Then I heard every creature in heaven and on earth and under the earth and on the sea, and all that is in them, singing: ‘To him who sits on the throne and to the Lamb be praise and honor and glory and power, for ever and ever!’ The four living creatures said, ‘Amen,’ and the elders fell down and worshiped.”
The last book in the Bible points prophetically to the time where every living creature will know and acknowledge that Jesus, the “Lamb of God, who takes away the sin of the world” (John 1:29) is also the God who we must praise, honor, and worship -- and certainly no mere mortal whose identity needed upgrading by some Roman emperor hundreds of years after He walked this planet!

Jesus Is God – Why This Matters So Much
But Jesus and His followers made the truth very clear, as we’ve seen in the pages of the earliest records, concerning who He was and is – and how imperative it is that we understand and embrace that truth. Look at His sobering words about the vital importance of His identity.
“I am the light of the world. Whoever follows me will never walk in darkness, but will have the light of life. . . .

“But you have no idea where I come from or where I am going. . .You do not know me or my Father. . .I told you that you would die in your sins; if you do not believe that I am the one I claim to be, you will indeed die in your sins.”

“. . .Even as He spoke, many put their faith in him. To [them] Jesus said, ‘If you hold to my teaching, you are really my disciples. Then you will know the truth, and the truth will set you free.’"
- Jesus, recorded in John chapter 8.

JESUS IS GOD

Jesus is God: Biblical Proof

JESUS IS GOD – WHAT DOES THE BIBLE SAY ABOUT JESUS’ DEITY?
Does the Bible, which is the earliest and most historically reliable source, actually say Jesus is God? What does it tell us about Jesus and His identity?
Let’s take a brief look at a few of the many passages that clearly and consistently answer that question, straight from the pages of Scripture. We’ll begin by going back an additional 700 years before the life of Christ, to the Old Testament book of Isaiah.

JESUS IS GOD – PROPHECIES
Divine Messiah Predicted In The Old Testament.
Isaiah 7:14: “Therefore the Lord himself will give you a sign: The virgin will be with child and will give birth to a son, and will call him Immanuel.”
“Immanuel” literally means: “God with us.” See also Matthew 1:23; Jesus was “God with us.”

This Messiah Would Be Born A Human Son, But Have A Higher Nature.
Isaiah 9:6: “For to us a child is born, to us a son is given, and the government will be on his shoulders. And He will be called Wonderful Counselor, Mighty God, Everlasting Father, Prince of Peace.”
This was a radical statement coming from a monotheistic Jewish prophet – especially calling a human being “Mighty God”; but one that God fulfilled centuries later in Christ.
A couple hundred years later, but still more than half a millennium before Jesus walked the earth, more was predicted about the Messiah’s divine nature.
Daniel 7:13-14: “There before me was one like a son of man, coming with the clouds of heaven . . . He was given authority, glory and sovereign power; all peoples, nations and men of every language worshiped him. His dominion is an everlasting dominion that will not pass away, and his kingdom is one that will never be destroyed.”
“Son of Man” was the primary title Jesus used for Himself – and this passage shows that this was a clear and strong claim of deity. And in Mark, the earliest of the four Gospels, He also included the unmistakable phrase, “coming on the clouds of heaven” and applied it to Himself (Mark 14:62). His listeners got the point, refused to believe it, and added it to their reasons to try to kill Him.

JESUS IS GOD – HIS EARTHLY MINISTRY
The Baby Jesus Worshiped By The Magi.
Matthew 2:11: “On coming to the house, they saw the child with his mother Mary, and they bowed down and worshiped him.”
Along with being led to the site where Jesus was born, these Magi were apparently informed by God about Jesus’ divine identity, and so they responded appropriately by worshiping Him.

Jesus Accepted Worship From His Disciples.
Matthew 14:32-33: “And when they climbed into the boat, the wind died down. Then those who were in the boat worshiped him, saying, ‘Truly you are the Son of God.’”
In a Jewish culture, only the one true God can be worshiped; their actions show that they acknowledged Jesus as being divine. And Jesus didn’t correct them or say, “Don’t you realize that I’m just a mortal prophet? Stop worshiping me!” Rather, He accepted their worship, knowing He really was God in human flesh.

Jesus’ Claim About Himself.
John 8:58-59: "‘I tell you the truth,’ Jesus answered, ‘before Abraham was born, I am!’ At this, they picked up stones to stone him, but Jesus hid himself, slipping away from the temple grounds.”
This is a powerful double claim from Jesus: first, that He pre-existed His human birth and was actually alive and present (as God) before Abraham; second, that His title was “I am” – which was the same title used for Jehovah God in Exodus 3:14. His listeners again got the point, and picked up stones to execute Him!

Another Of Jesus’ Claims Of Deity.
John 10:30-33: “‘I and the Father are one.’ Again the Jews picked up stones to stone him, but Jesus said to them, ‘I have shown you many great miracles from the Father. For which of these do you stone me?’ ‘We are not stoning you for any of these,’ replied the Jews, ‘but for blasphemy, because you, a mere man, claim to be God.’”
It couldn’t be clearer than it is here: Jesus’ highly educated listeners understood His claim of deity. They only had two possible responses: to humble themselves and bow before Him as the Magi and the disciples had done earlier, or reject His claim and judge Him as a blasphemer. Unfortunately they chose the latter option. But notice that Jesus doesn’t argue with their accusation, because it was accurate. He really was claiming to be God!

Thomas’ Response To The Resurrected Jesus.
John 20:27-29: “Then He said to Thomas, ‘Put your finger here; see my hands. Reach out your hand and put it into my side. Stop doubting and believe.’ Thomas said to him, ‘My Lord and my God!’ Then Jesus told him, ‘Because you have seen me, you have believed; blessed are those who have not seen and yet have believed.’"
This disciple realized, because of Jesus’ resurrection, who Jesus really was – and humbly worshiped Him and declared His true identity: “My Lord and my God!” Jesus not only accepts this declaration, but blesses all of the disciples – and all of us today – who come to the same realization and place of humble worship.

Tuesday, September 4, 2007

Jesus Itu Tuhan

Apakah Jesus Tuhan?
Jesus sepenuhnya Tuhan. Ketika Ia datang ke bumi dan lahir dari Perawan Maria, Jesus juga menjadi manusia, sama seperti kita. Jadi Jesus itu Tuhan dan sekaligus manusia. Sebagai Tuhan, Jesus selalu ada – Ia tidak diciptakan ketika Ia lahir. Alih-alih, Ia dengan sengaja memilih untuk (berwujud) mengambil tubuh manusia.
Ayat Utama
Sebelum yang lain ada, sudah ada Anak Tuhan. Ia adalah firman, dan Ia adalah Tuhan. Ia selalu hidup dan Tuhan itu sendiri. (Yohanes 1:1-2)
Ayat-ayat Terkait
Yohanes 1:14; 14:9; Kolose 1:15-18

Jika Anak Bertanya Tentang Tuhan

Tuhan Itu Seperti Apa?
Tidak satu pun orang yang tahu bagaimana “rupa” Tuhan karena Tuhan tidak terlihat dan tidak memiliki tubuh jasmaniah seperti kita. Tetapi kita bisa belajar tentang Tuhan dan melihat seperti apa tindakan-tindakan Tuhan dengan belajar tentang PutraNya, Jesus. Di dalam Alkitab kita bisa membaca tentang kehidupan Jesus, bagaimana ia memperlakukan orang-orang, dan apa yang diajarkannya. Nah, seperti itulah Tuhan.
Ayat Utama
Jesus menjawab, “Bahkan kamu tidak mengenal siapa aku, Philip? Padahal aku sudah bersamamu selama ini! Siapa pun yang telah melihatku berarti sudah melihat Bapa! Jadi, mengapa kamu bertanya ingin melihatnya?” (Yohanes 14:9)
Ayat-ayat Terkait
Yohanes 1:18; 5:37; 6:46; 1 Yohanes 3:2

Sunday, August 19, 2007

Mau Selamat?

Penyaliban Yesus Kristus – Kado Keselamatan Abadi

Penyaliban Yesus Kristus – KematianNya
Penyaliban Yesus Kristus dan kebangkitanNya adalah dua kejadian paling penting dalam sejarah manusia. Mengapa begitu? Karena dengan kematian Yesus manusia berkesempatan memperoleh keselamatan abadi.
Keempat Injil Perjanjian Baru mengungkapkan tentang penyaliban Kristus. Para penulis injil ini menggambarkan secara jelas bagaimana kebiasaan orang Romawi kuno. Berikut ini beberapa kejadian penting dalam kronologi penyaliban:
- Yesus ditahan di Taman Gethsemane (Markus 14:43-52).
- Yesus menjalani enam sidang pengadilan – tiga oleh para pemimpin Yahudi dan tiga oleh orang Romawi (Yohanes 18:12-14, Markus 14:53-65, Markus 15:1a, Markus 15: 1b-5, Lukas 23:6-12, Markus 15:6-15).
- Yesus bertahan dari penghinaan, pemukulan, dan pemecutan yang menyakitkan (Markus 15:16-20).
- Pilatus mencoba berkompromi dengan para pemimpin relijius dengan memukuli Yesus, namun tindakan ini tidak memuaskan mereka. Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalib (Markus 15:6-15).
- Yesus dilecehkan oleh para prajurit dengan mengenakan jubah ungu dan memberi mahkota duri kepadaNya (Yohanes 19:1-3).
- Yesus disalib di bukit Golgotha, yang berarti tempat tengkorak (Markus 15:22). Langit berubah gelap gulita selama tiga jam (Markus 15:33).
- Yesus berdoa, “Bapa! Ke dalam tanganMu Kuserahkan jiwaKu!” dan Ia mati (Lukas 23:46).
Penulis Arthur W. Pitt menjelaskan kejadian itu seperti ini, “Dengan punggung berdarah karena memanggul salibNya di bawah terik hampir tengah hari, Yesus mendaki tanah berbatu-batu bukit Golgotha. Begitu sampai di tempak eksekusi yang telah ditentukan, kedua tangan dan kakinya dipakukan pada tiga tempat. Selama tiga jam Ia tergantung di sana dengan sinar matahari yang tak kenal rasa kasihan mengiris-iris kepalaNya yang bermahkotakan onak duri. Ini kemudian diikuti tiga jam kegelapan. Sekarang berlalu. Siang dan malam itu adalah waktu dimana keabadian dimampatkan.”
Sang Juru Selamat dunia telah muncul dari tiga jam kegelapan. Pada saat itu Ia terpisah dari Tuhan Bapa. Mengapa Bapa mengabaikanNya? Itu berlawanan dengan karakter Tuhan untuk menghadapi dosa, maka Tuhan menarik diriNya sendiri dari berkomunikasi dengan AnakNya ketika Yesus menanggung dosa dunia.

Penyaliban Yesus Kristus – Penguburan dan KebangkitanNya
Setelah penyaliban Yesus Kristus, Yusuf dari Arimathea meminta jenasah Yesus kepada Pilatus. Yusuf diijinkan menguburkan Yesus, maka ia membawa kain kafan, membungkus jasad itu, membaringkan Yesus di dalam makam dan menggulingkan satu batu besar di depan lubang masuk. Yesus di dalam makam selama tiga hari. Setelah hari Sabat, Maria Magdalena, Maria (Ibunda Yesus) dan Salome menyiapkan rempah-rempah untuk mengurapi tubuh Yesus. Ketika mereka sampai di kuburan, batunya sudah terguling! Mereka memasuki makam, di mana malaikat berkata, “Jangan takut... Kalian mencari Yesus orang Nazareth, yang telah disalibkan. Ia sudah bangkit! Ia tidak di sini. Lihatlah tempat di mana mereka membaringkannya. Tetapi pergilah, beritahu murid-murid dan Petrus, ‘Ia mendahului kalian ke Galilea. Di sana kalian akan melihatNya, tepat seperti pernah Ia katakan kepada kalian’” (Markus 16:6-7).

Penyaliban Yesus Kristus – Kado AbadiNya
Apa kaitan penyaliban Yesus Kristus dengan kita semua? Tuhan, yang mengetahui apa yang telah kita perbuat, tahu bahwa kita tidak dapat menjalani hidup tanpa dosa yang perlu untuk ke surga. Maka Ia memutuskan untuk menawarkan diriNya sendiri menggantikan kita. Ia melakukannya dengan menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, AnakNya sendiri. Yesus menjalani hidup tanpa dosa di bumi.
Tuhan telah mengatakan bahwa hukuman atas dosa adalah kematian. Karena kita semua berdosa (Roma 3:23, 6:23), kita perlu seseorang yang tidak berdosa untuk menggantikan tempat kita. Yesus, karena tidak berdosa, mati menggantikan kita dan menjadi kasih keselamatan dunia. Ia mati untuk kita! Roma 5:10 mengatakan, “Karena apabila, ketika kita dulu masih musuh Tuhan, maka kemudian kita berdamai denganNya melalui kematian anakNya, apalagi ketika kita sudah diperdamaikan, maka kita pasti akan diselamatkan melalui kehidupanNya!”
Alkitab mengatakan, “Percayalah kepada Tuhan Yesus, dan kamu akan diselamatkan...”
(Kisah Para Rasul 16:31). Menghadiri kebaktian di gereja atau melakukan tindakan baik tidak akan menentukan keselamatanmu. Tuhanlah yang menyelamatkan kita dengan kasihNya.
Yesus memberikan hadiah kehidupan abadi. Akankah engkau menerimanya dengan penuh keyakinan?